1reservoir.com Menjelang pergantian tahun, Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas, mengajak masyarakat untuk mengubah cara memaknai malam tahun baru. Alih-alih perayaan pesta dan hiburan yang meriah, Rico Waas mendorong warga untuk mengisi momen tersebut dengan muhasabah dan doa bersama sebagai bentuk refleksi diri atas perjalanan satu tahun yang telah dilalui.
Ajakan ini mencerminkan sikap pemerintah kota yang ingin menghadirkan suasana pergantian tahun yang lebih tenang, bermakna, dan penuh empati. Rico Waas menilai bahwa pergantian tahun adalah waktu yang tepat untuk menilai kembali apa saja yang telah dilakukan, memperbaiki kekurangan, serta mempersiapkan diri secara mental dan spiritual untuk menghadapi tantangan ke depan.
Muhasabah sebagai Landasan Spiritual
Dalam kegiatan muhasabah yang digelar oleh Majelis Ulama Indonesia Kota Medan, Rico Waas menekankan pentingnya introspeksi diri. Menurutnya, setiap manusia memiliki keterbatasan dan tidak pernah lepas dari kekurangan. Oleh karena itu, muhasabah menjadi sarana untuk menyadari hal tersebut sekaligus memperkuat keimanan.
Ia mengajak masyarakat untuk berdoa agar diberikan kekuatan dan ketabahan, serta dijauhkan dari cobaan yang melampaui kemampuan manusia. Bagi Rico Waas, doa bukan sekadar ritual, melainkan pengakuan akan ketergantungan manusia kepada Tuhan dalam setiap aspek kehidupan.
Kebijakan Pemkot Medan Tanpa Perayaan Pesta
Rico Waas menegaskan bahwa Pemerintah Kota Medan tidak akan menggelar perayaan malam pergantian tahun dengan konsep pesta atau hiburan besar. Sebagai gantinya, pergantian tahun akan diisi dengan kegiatan doa bersama yang diharapkan dapat menumbuhkan rasa kebersamaan dan ketenangan batin.
Kebijakan ini diambil dengan mempertimbangkan kondisi sosial masyarakat. Di tengah situasi yang masih menyisakan duka akibat bencana dan kesulitan yang dialami sebagian warga, perayaan yang sederhana dinilai lebih mencerminkan kepedulian sosial dibandingkan pesta yang berlebihan.
Seruan Empati dan Solidaritas Sosial
Dalam imbauannya kepada masyarakat, Rico Waas mengingatkan pentingnya meningkatkan rasa empati. Ia menekankan bahwa masih banyak warga yang membutuhkan perhatian dan bantuan. Oleh karena itu, menahan diri dari euforia berlebihan dianggap sebagai bentuk solidaritas terhadap sesama.
Rico Waas berharap masyarakat Medan dapat saling menguatkan dan bahu-membahu membangun kota. Menurutnya, kemajuan kota tidak hanya ditentukan oleh pembangunan fisik, tetapi juga oleh kekuatan nilai-nilai kemanusiaan, kebersamaan, dan kepedulian sosial.
Harapan Menyongsong Tahun Baru
Menatap tahun yang baru, Rico Waas menyampaikan harapan agar masyarakat dapat meninggalkan sifat-sifat negatif seperti iri dan dengki. Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk membangun Medan dengan semangat persatuan dan kerja sama.
Baginya, keberhasilan pembangunan kota adalah hasil dari kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat. Dengan doa dan niat baik, Rico Waas optimistis Medan dapat tumbuh menjadi kota yang lebih harmonis, inklusif, dan berdaya saing.
Peran Ulama dalam Membina Generasi Muda
Selain mengajak muhasabah, Rico Waas juga menaruh perhatian besar pada peran ulama, khususnya dalam membina generasi muda. Ia mendorong MUI Kota Medan untuk melahirkan ulama-ulama muda yang mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi tanpa meninggalkan nilai-nilai agama.
Menurutnya, pendekatan keagamaan yang terbuka dan relevan dengan perkembangan zaman sangat dibutuhkan untuk merangkul generasi muda. Anak-anak muda hidup di era digital dengan arus informasi yang cepat, sehingga metode dakwah dan pembinaan harus disesuaikan dengan realitas tersebut.
Agama dan Teknologi di Era Digital
Rico Waas menilai bahwa teknologi seharusnya tidak diposisikan sebagai ancaman bagi nilai keagamaan. Sebaliknya, teknologi dapat dimanfaatkan sebagai sarana dakwah yang efektif dan positif. Media digital, jika digunakan secara bijak, dapat menjadi alat untuk menanamkan nilai moral dan spiritual kepada generasi muda.
Pendekatan ini diyakini dapat membantu mencegah kenakalan remaja dan tindak kejahatan. Dengan bimbingan yang tepat, generasi muda dapat diarahkan untuk memiliki kedekatan spiritual sekaligus kemampuan adaptif terhadap perubahan zaman.
Muhasabah sebagai Budaya Bersama
Ajakan Rico Waas untuk mengisi malam pergantian tahun dengan muhasabah dan doa bersama diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan simbolis. Ia ingin refleksi diri dan doa menjadi budaya yang terus hidup di tengah masyarakat Medan.
Dengan menjadikan muhasabah sebagai kebiasaan, masyarakat diharapkan lebih peka terhadap diri sendiri dan lingkungan sekitar. Kesadaran ini diyakini dapat menciptakan iklim sosial yang lebih damai, toleran, dan saling mendukung.
Penutup
Keputusan Wali Kota Medan untuk meniadakan pesta pergantian tahun dan menggantinya dengan muhasabah serta doa bersama membawa pesan kuat tentang pentingnya refleksi diri dan empati sosial. Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern, ajakan ini menjadi pengingat bahwa ketenangan batin dan kebersamaan memiliki nilai yang jauh lebih bermakna.
Dengan semangat muhasabah, doa, dan kolaborasi, masyarakat Medan diharapkan dapat melangkah ke tahun baru dengan hati yang lebih jernih, sikap yang lebih peduli, dan komitmen bersama untuk membangun kota yang lebih baik bagi semua.

Cek Juga Artikel Dari Platform iklanjualbeli.info
