Sekolah Darurat Dorong Pemulihan Pendidikan Pidie Jaya
Upaya pemulihan pascabencana tidak hanya berfokus pada pemenuhan kebutuhan dasar seperti pangan dan tempat tinggal, tetapi juga menyentuh aspek penting lain, yakni pendidikan. Di Kabupaten Pidie Jaya, keberlangsungan proses belajar mengajar kembali digerakkan melalui pendirian sekolah dan pesantren sementara bagi anak-anak terdampak bencana alam.
Inisiatif tersebut dilakukan oleh Pertamina Patra Niaga Regional Sumatera Bagian Utara (Sumbagut) melalui program Pertamina Peduli. Dua tenda posko didirikan dan difungsikan sebagai ruang belajar sementara agar anak-anak tetap mendapatkan hak pendidikan di tengah kondisi darurat.
Pendidikan Tetap Berjalan di Tengah Keterbatasan
Bencana alam yang melanda Pidie Jaya sempat mengganggu aktivitas masyarakat, termasuk kegiatan pendidikan. Sejumlah fasilitas sekolah terdampak, sementara sebagian warga masih beradaptasi dengan kondisi pascabencana. Dalam situasi tersebut, keberlanjutan pendidikan anak-anak menjadi tantangan tersendiri.
Melalui pendirian sekolah dan pesantren sementara, Pertamina Patra Niaga berupaya memastikan proses belajar tidak terhenti terlalu lama. Langkah ini dipandang penting untuk menjaga rutinitas anak-anak sekaligus membantu pemulihan psikososial mereka.
Komitmen Pemulihan Sosial Pascabencana
Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut, Fahrougi Andriani Sumampouw, menyampaikan bahwa pendidikan merupakan bagian penting dari pemulihan sosial masyarakat.
Menurutnya, anak-anak membutuhkan ruang aman dan nyaman untuk kembali belajar agar semangat dan harapan mereka tidak padam akibat bencana. Kehadiran posko sekolah dan pesantren sementara diharapkan dapat menjadi solusi jangka pendek yang berdampak nyata.
Lokasi Strategis dan Aman
Sekolah dan pesantren sementara tersebut berlokasi di Posko Pertamina Peduli, kompleks Masjid At-Taqwa, Kota Meureudu, Kecamatan Meureudu. Pemilihan lokasi dilakukan dengan mempertimbangkan aspek keamanan, kemudahan akses, serta kenyamanan bagi anak-anak dan para pengajar.
Lingkungan masjid dinilai mendukung suasana belajar yang kondusif, sekaligus memudahkan koordinasi dengan masyarakat setempat. Dengan lokasi yang relatif aman, anak-anak dapat mengikuti kegiatan belajar tanpa rasa khawatir.
Pembelajaran Terstruktur di Posko Darurat
Kegiatan belajar mengajar di sekolah darurat ini dilaksanakan secara terstruktur. Pada pagi hari, anak-anak mengikuti pelajaran sekolah formal sesuai jenjang masing-masing. Sementara pada siang hari, kegiatan dilanjutkan dengan pendidikan Diniyah untuk para santri.
Pola pembelajaran ini dirancang agar pendidikan formal dan keagamaan tetap berjalan seimbang. Di tengah keterbatasan sarana, struktur pembelajaran menjadi kunci agar anak-anak tetap memiliki ritme belajar yang jelas.
Ratusan Anak Terlibat Aktif
Sekitar 200 peserta didik memanfaatkan keberadaan sekolah dan pesantren sementara ini. Mereka terdiri dari 50 siswa jenjang taman kanak-kanak dan sekolah dasar, serta 150 santri pendidikan Diniyah.
Antusiasme anak-anak terlihat sejak hari pertama kegiatan belajar. Meski belajar di tenda darurat, mereka tetap menunjukkan semangat untuk mengikuti pelajaran. Kehadiran guru, pengajar lokal, serta relawan turut memberikan rasa aman dan dukungan moral bagi para peserta didik.
Peran Relawan dan Guru Lokal
Keberhasilan penyelenggaraan pendidikan darurat ini tidak terlepas dari peran para guru dan relawan. Mereka beradaptasi dengan kondisi lapangan, menyusun metode pembelajaran sederhana namun efektif, serta memberikan perhatian khusus kepada anak-anak yang masih mengalami dampak psikologis pascabencana.
Kolaborasi antara relawan Pertamina, tenaga pendidik, dan masyarakat setempat menciptakan ekosistem belajar yang saling mendukung. Sinergi ini menjadi contoh penting bagaimana pemulihan pendidikan dapat dilakukan secara gotong royong.
Membangkitkan Semangat dan Harapan
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV. Dumatubun, menegaskan bahwa pendirian sekolah dan pesantren sementara tidak hanya bertujuan menyediakan fasilitas fisik, tetapi juga membangkitkan semangat dan harapan anak-anak.
Ruang belajar yang aman dan nyaman diharapkan dapat membantu anak-anak kembali fokus pada masa depan mereka. Pendidikan menjadi sarana penting untuk memulihkan rasa optimisme di tengah situasi sulit.
Koordinasi dengan Pemerintah Daerah
Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan pihak terkait untuk memastikan bantuan yang diberikan tepat sasaran. Pendekatan kolaboratif ini dinilai penting agar program pemulihan berjalan sejalan dengan kebutuhan masyarakat setempat.
Koordinasi juga dilakukan untuk menyesuaikan kegiatan sekolah darurat dengan rencana pemulihan jangka menengah, termasuk kemungkinan transisi kembali ke sekolah permanen ketika kondisi sudah memungkinkan.
Pendidikan sebagai Fondasi Pemulihan Jangka Panjang
Pemulihan pendidikan memiliki peran strategis dalam proses bangkitnya masyarakat pascabencana. Anak-anak yang tetap mendapatkan akses belajar cenderung lebih cepat pulih secara mental dan emosional.
Inisiatif sekolah dan pesantren sementara di Pidie Jaya menjadi bukti bahwa pendidikan tidak boleh terhenti dalam kondisi apa pun. Di tengah keterbatasan, komitmen bersama antara dunia usaha, pemerintah, dan masyarakat mampu menghadirkan solusi nyata.
Harapan ke Depan
Keberadaan sekolah darurat ini diharapkan dapat terus memberikan manfaat hingga kondisi benar-benar pulih. Lebih dari sekadar ruang belajar sementara, posko pendidikan ini menjadi simbol kepedulian dan komitmen untuk menjaga masa depan generasi muda.
Melalui langkah-langkah konkret seperti ini, pemulihan pascabencana tidak hanya membangun kembali infrastruktur, tetapi juga menanamkan kembali harapan bagi anak-anak Pidie Jaya untuk terus belajar dan meraih cita-cita mereka.
Baca Juga : Bareskrim Polri Usut Kayu Gelondongan Picu Banjir Aceh
Cek Juga Artikel Dari Platform : pestanada

