PT Jasa Marga (Persero) Tbk memprediksi puncak arus balik libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru) menuju wilayah Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi (Jabotabek) akan terjadi pada Minggu, 4 Januari 2026. Prediksi ini didasarkan pada berakhirnya masa libur panjang serta kembalinya aktivitas masyarakat ke rutinitas normal, terutama pekerjaan dan pendidikan.
Direktur Utama Jasa Marga, Rivan A. Purwantono, menyampaikan bahwa perusahaan telah menyiapkan berbagai langkah antisipatif guna menghadapi lonjakan volume kendaraan yang diperkirakan meningkat signifikan pada akhir pekan tersebut.
“Jasa Marga memprediksi puncak arus kembali ke wilayah Jabotabek akan terjadi pada akhir pekan ini, yakni Minggu (4/1). Untuk itu, kami telah menyiapkan berbagai langkah antisipatif,” ujar Rivan dalam keterangan tertulis, Sabtu (3/1/2026).
Tren Kenaikan Kendaraan Menuju Jabotabek
Rivan menjelaskan, tren kendaraan yang kembali ke wilayah Jabotabek sejak awal tahun baru menunjukkan peningkatan yang cukup tajam. Berdasarkan data operasional Jasa Marga, tercatat sebanyak 324.208 kendaraan telah kembali ke wilayah Jabotabek dalam periode Kamis, 1 Januari hingga Sabtu, 3 Januari 2026 pukul 06.00 WIB.
Angka tersebut merupakan akumulasi arus lalu lintas dari empat Gerbang Tol (GT) utama, yakni GT Cikupa dari arah Merak, GT Ciawi dari arah Puncak, GT Cikampek Utama dari arah Trans Jawa, serta GT Kalihurip Utama dari arah Bandung.
“Total volume lalu lintas ini meningkat sebesar 16,24 persen dibandingkan lalu lintas normal yang tercatat sebanyak 278.918 kendaraan,” kata Rivan.
Lonjakan ini dinilai sebagai sinyal awal bahwa puncak arus balik memang akan terjadi pada Minggu, seiring banyaknya pemudik yang memilih kembali di hari terakhir libur sebelum aktivitas kerja dimulai kembali.
Koordinasi dengan Kepolisian dan Rekayasa Lalu Lintas
Untuk memastikan kelancaran arus balik, Jasa Marga melakukan koordinasi intensif dengan Kepolisian serta instansi terkait lainnya. Koordinasi ini mencakup kesiapan penerapan rekayasa lalu lintas secara situasional, seperti sistem one way, contraflow, maupun pengaturan buka-tutup jalur pada ruas-ruas tol tertentu.
Menurut Rivan, dukungan terhadap kebijakan rekayasa lalu lintas sangat penting untuk mencegah terjadinya kepadatan ekstrem, khususnya di titik-titik rawan kemacetan seperti ruas Tol Jakarta-Cikampek dan Tol Cipularang.
“Kami mendukung penuh langkah-langkah rekayasa lalu lintas yang diperlukan. Keselamatan dan kenyamanan pengguna jalan tetap menjadi prioritas utama,” tegasnya.
Empat Gerbang Tol Jadi Barometer Arus Balik
Empat Gerbang Tol utama yang menjadi titik pantau Jasa Marga selama periode Nataru berperan sebagai barometer utama pergerakan arus balik. GT Cikampek Utama dan GT Kalihurip Utama, misalnya, menjadi indikator utama arus balik dari arah Timur dan Bandung.
Sementara itu, GT Ciawi mencerminkan arus balik dari kawasan wisata Puncak yang biasanya mengalami kepadatan signifikan pada akhir masa liburan. Adapun GT Cikupa menjadi pintu masuk utama kendaraan dari arah Merak dan Sumatera.
Data dari keempat gerbang tol tersebut menunjukkan bahwa pergerakan kendaraan berlangsung merata dari berbagai arah, menandakan mobilitas masyarakat yang tinggi namun masih terkendali.
Imbauan kepada Pengguna Jalan Tol
Menghadapi puncak arus balik, Jasa Marga mengimbau pengguna jalan tol untuk mempersiapkan perjalanan dengan baik. Pengendara disarankan memantau informasi lalu lintas terkini melalui kanal resmi Jasa Marga, media sosial, maupun layanan informasi 24 jam.
Selain itu, pengguna jalan diimbau untuk memastikan kondisi kendaraan dalam keadaan prima, mematuhi rambu lalu lintas, serta beristirahat di rest area jika merasa lelah.
“Kami mengajak masyarakat untuk merencanakan waktu perjalanan dengan bijak, menghindari jam-jam puncak bila memungkinkan, dan selalu mengutamakan keselamatan,” ujar Rivan.
Arus Balik dan Dampaknya terhadap Aktivitas Perkotaan
Puncak arus balik Nataru diperkirakan akan berdampak langsung pada aktivitas perkotaan di wilayah Jabotabek. Lonjakan kendaraan yang masuk ke kawasan ini biasanya beriringan dengan meningkatnya kepadatan di jalan arteri dan akses menuju pusat kota.
Namun, Jasa Marga optimistis bahwa dengan kesiapan infrastruktur, koordinasi lintas sektor, serta pengalaman penanganan arus mudik dan balik sebelumnya, lonjakan kendaraan pada Nataru kali ini dapat dikelola dengan baik.
“Pengalaman kami dalam menangani arus mudik dan balik setiap tahun menjadi modal penting. Kami berharap arus balik Nataru 2025/2026 dapat berjalan aman, lancar, dan terkendali,” tutup Rivan.
Penutup
Prediksi puncak arus balik Nataru pada Minggu, 4 Januari 2026, menjadi perhatian utama bagi Jasa Marga dan seluruh pemangku kepentingan transportasi. Dengan volume kendaraan yang sudah meningkat lebih dari 16 persen dibandingkan kondisi normal, kesiapsiagaan menjadi kunci untuk menjaga kelancaran dan keselamatan perjalanan masyarakat.
Melalui koordinasi intensif, dukungan rekayasa lalu lintas, serta imbauan kepada pengguna jalan, Jasa Marga berupaya memastikan bahwa momen kembalinya masyarakat ke rutinitas pascalibur panjang dapat berlangsung tanpa gangguan berarti.
Baca Juga : BMKG Ingatkan Potensi Hujan Lebat dan Longsor di Aceh
Cek Juga Artikel Dari Platform : iklanjualbeli

