1reservoir.com Universitas Muhammadiyah Surakarta melalui Program Studi Arsitektur menggelar Kuliah Kerja Lapangan dengan fokus pada eksplorasi arsitektur vernakular di Desa Adat Senaru. Kegiatan ini melibatkan 14 mahasiswa yang tergabung dalam Kelompok Jinten dan didampingi oleh Rini Hidayati sebagai pembimbing lapangan.
Desa Senaru dipilih karena masih mempertahankan struktur sosial dan tata ruang tradisionalnya meskipun berada dalam arus perkembangan pariwisata. Keberadaan rumah adat yang tetap dihuni dan digunakan dalam kehidupan sehari-hari menjadi alasan utama desa ini layak dijadikan laboratorium hidup bagi mahasiswa arsitektur.
Permukiman Tradisional yang Masih Berfungsi
Sekitar dua puluh rumah adat berdiri dalam satu kawasan yang dihuni oleh beberapa generasi dalam satu garis keturunan. Susunan bangunan mengikuti struktur keluarga, sehingga pola ruang mencerminkan relasi sosial yang erat.
Tata letak rumah tidak disusun secara acak. Orientasi bangunan, jarak antar rumah, serta posisi ruang publik dan privat diatur berdasarkan nilai adat yang diwariskan turun-temurun. Kondisi tersebut memungkinkan mahasiswa mengamati langsung keterkaitan antara ruang, budaya, dan sistem sosial masyarakat.
Keunikan ini jarang ditemukan di kawasan yang telah mengalami modernisasi masif. Di Senaru, fungsi ruang tradisional masih berjalan sesuai dengan konteks aslinya.
Arsitektur Vernakular sebagai Sistem Budaya
Arsitektur vernakular tidak hanya berbicara tentang bentuk fisik bangunan. Konsep ini mencakup cara masyarakat memanfaatkan material lokal, merespons kondisi geografis, serta mengatur kehidupan sosial melalui tata ruang.
Material seperti kayu, bambu, dan atap berbahan alami digunakan karena sesuai dengan iklim setempat. Struktur bangunan dirancang agar mampu beradaptasi terhadap suhu, angin, dan curah hujan. Dengan pendekatan ini, masyarakat telah menerapkan prinsip keberlanjutan jauh sebelum istilah tersebut populer dalam dunia arsitektur modern.
Melalui observasi lapangan, mahasiswa mempelajari bahwa setiap elemen bangunan memiliki makna dan fungsi. Ruang tertentu diperuntukkan bagi aktivitas adat, sementara area lainnya digunakan untuk kegiatan domestik.
Interaksi Sosial dan Hierarki Ruang
Kehidupan komunal menjadi salah satu ciri khas Desa Senaru. Hubungan antaranggota keluarga tercermin dalam pola permukiman yang saling terhubung. Ruang terbuka berfungsi sebagai tempat interaksi, diskusi, hingga pelaksanaan ritual adat.
Mahasiswa tidak hanya mencatat dimensi dan bentuk bangunan, tetapi juga mendalami dinamika sosial yang terjadi di dalamnya. Wawancara dengan warga membantu memperkaya pemahaman mengenai filosofi di balik tata ruang.
Pendekatan partisipatif ini memberikan perspektif berbeda dibanding pembelajaran teoritis di kelas. Konteks sosial menjadi faktor utama dalam memahami arsitektur sebagai produk budaya.
Tantangan Modernisasi dan Pariwisata
Perkembangan pariwisata membawa perubahan signifikan bagi desa adat. Kehadiran wisatawan membuka peluang ekonomi baru, tetapi juga berpotensi menggeser nilai tradisional.
Meskipun demikian, masyarakat Senaru dinilai mampu menjaga keseimbangan antara pelestarian budaya dan kebutuhan ekonomi. Rumah adat tetap difungsikan sesuai peran aslinya, sementara aktivitas wisata dikembangkan tanpa merusak struktur utama permukiman.
Mahasiswa mencermati bagaimana komunitas lokal merespons perubahan. Adaptasi dilakukan secara selektif agar identitas budaya tetap terjaga.
Pembelajaran Kontekstual bagi Calon Arsitek
Pengalaman KKL memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk mengintegrasikan teori dan praktik. Analisis tata ruang, dokumentasi visual, serta diskusi kelompok menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran.
Dosen pendamping mendorong mahasiswa untuk merefleksikan temuan lapangan secara kritis. Keterkaitan antara desain, budaya, dan keberlanjutan menjadi topik utama yang dibahas selama kegiatan.
Melalui proses ini, mahasiswa diharapkan memiliki sensitivitas terhadap konteks lokal saat merancang bangunan di masa depan. Desain yang baik tidak hanya estetis, tetapi juga menghormati lingkungan dan budaya.
Perspektif Keberlanjutan dalam Arsitektur Lokal
Prinsip keberlanjutan menjadi salah satu temuan penting dalam eksplorasi ini. Penggunaan material lokal mengurangi ketergantungan pada sumber daya eksternal. Sistem ventilasi alami membantu menjaga kenyamanan ruang tanpa teknologi modern.
Nilai-nilai tersebut relevan dengan tantangan arsitektur masa kini yang semakin menekankan efisiensi energi dan ramah lingkungan. Pembelajaran dari desa adat seperti Senaru dapat menjadi inspirasi bagi praktik arsitektur kontemporer.
Integrasi kearifan lokal dalam desain modern berpotensi menghasilkan karya yang lebih kontekstual dan berkelanjutan.
Pendidikan sebagai Upaya Pelestarian
Kegiatan KKL ini bukan sekadar tugas akademik. Dokumentasi dan kajian yang dilakukan mahasiswa turut berkontribusi dalam pelestarian warisan budaya.
Melalui pendekatan ilmiah, nilai-nilai arsitektur vernakular dapat dipahami dan dikembangkan lebih lanjut. Pendidikan tinggi memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan mengangkat kembali kekayaan lokal yang sering terpinggirkan.
Eksplorasi di Desa Senaru menjadi bukti bahwa arsitektur adalah refleksi kehidupan masyarakat. Dengan memahami sistem permukiman tradisional, mahasiswa belajar bahwa desain tidak dapat dipisahkan dari konteks sosial dan budaya yang melingkupinya.

Cek Juga Artikel Dari Platform faktagosip.web.id
