1reservoir.com Bencana alam yang melanda Kabupaten Bener Meriah meninggalkan dampak besar bagi kehidupan masyarakat, termasuk sektor pendidikan. Kerusakan infrastruktur akibat gempa bumi yang disusul banjir bandang dan tanah longsor memaksa sejumlah sekolah menghentikan aktivitas di bangunan lama yang dinilai tidak lagi aman.
Di tengah kondisi tersebut, proses belajar mengajar tetap diupayakan agar anak-anak tidak kehilangan hak pendidikannya. Tenda pengungsian milik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) pun menjadi ruang kelas darurat bagi para siswa sekolah dasar.
Langkah ini diambil sebagai solusi sementara sambil menunggu penanganan lanjutan dari pemerintah.
Bangunan Sekolah Tidak Layak Digunakan
Kerusakan pada beberapa gedung sekolah tergolong cukup serius. Retakan pada dinding, struktur bangunan yang melemah, serta kondisi lingkungan sekitar membuat sekolah tidak dapat digunakan demi alasan keselamatan.
Pihak sekolah memilih memindahkan seluruh aktivitas belajar untuk mencegah risiko yang dapat membahayakan siswa dan tenaga pendidik.
Keputusan ini diambil meskipun harus menghadapi keterbatasan fasilitas dan ruang belajar yang sangat minim.
Kampung Uning Mas Jadi Wilayah Terparah
Salah satu wilayah yang paling terdampak bencana adalah Kampung Uning Mas. Kawasan ini mengalami kerusakan masif akibat banjir bandang dan longsor.
Hampir seluruh rumah warga dilaporkan rata dengan tanah. Hanya beberapa rumah kebun yang berada di dataran lebih tinggi yang masih tersisa.
Hingga saat ini, sebagian besar warga masih bertahan di tenda pengungsian sambil menunggu pembangunan hunian sementara dari pemerintah.
Sekolah Ikut Direlokasi ke Lokasi Aman
SD Negeri Uning Mas menjadi salah satu fasilitas publik yang terdampak paling parah. Demi menjaga keselamatan, sekolah tersebut direlokasi ke lokasi yang lebih aman dengan jarak sekitar beberapa kilometer dari bangunan lama.
Relokasi ini dilakukan agar kegiatan belajar dapat terus berjalan meskipun dalam kondisi darurat.
Lokasi baru yang digunakan masih sangat terbatas, namun dinilai lebih aman dari potensi bencana susulan.
Proses Belajar di Bawah Tenda Pengungsian
Di lokasi pengungsian, tenda-tenda BPBD disulap menjadi ruang kelas sementara. Meja dan kursi seadanya digunakan untuk menunjang proses belajar.
Pada saat cuaca mendukung, kegiatan belajar bahkan dilakukan di area terbuka seperti badan jalan yang relatif aman dan tidak dilalui kendaraan.
Kondisi ini menggambarkan betapa terbatasnya sarana pendidikan pascabencana.
Jumlah Siswa dan Guru Terbatas
Saat ini, SD Negeri Uning Mas tercatat memiliki belasan peserta didik. Tenaga pendidik yang mengabdi juga tergolong terbatas, namun tetap berkomitmen mendampingi siswa.
Para guru menjalankan tugasnya dengan penuh dedikasi meski harus mengajar dalam kondisi yang jauh dari kata ideal.
Kehadiran guru menjadi faktor utama yang menjaga semangat belajar anak-anak tetap hidup.
Semangat Belajar Tak Pernah Surut
Meski harus belajar di tenda, semangat para siswa tidak surut. Mereka tetap datang setiap hari dengan antusias mengikuti pelajaran yang diberikan.
Suasana belajar mungkin sederhana, namun semangat dan keinginan untuk terus belajar menjadi kekuatan utama mereka.
Bagi para guru, semangat tersebut menjadi penyemangat tersendiri untuk terus hadir dan mengajar.
Dukungan Psikososial Sangat Dibutuhkan
Kondisi pascabencana tidak hanya berdampak secara fisik, tetapi juga secara psikologis. Anak-anak yang kehilangan rumah dan lingkungan bermain membutuhkan perhatian khusus.
Kegiatan belajar di tenda diharapkan dapat membantu memulihkan kondisi mental siswa dengan menghadirkan rutinitas yang positif.
Sekolah darurat menjadi ruang aman bagi anak-anak untuk kembali merasa normal di tengah situasi sulit.
Pemerintah Daerah Terus Melakukan Koordinasi
Pemerintah daerah telah melaporkan kondisi sekolah terdampak kepada pemerintah pusat sebagai dasar pengajuan bantuan.
Upaya ini dilakukan agar penanganan pendidikan pascabencana dapat segera mendapat dukungan yang memadai.
Koordinasi lintas sektor terus dilakukan untuk memastikan pembangunan hunian sementara dan fasilitas pendidikan berjalan beriringan.
Harapan Akan Sekolah yang Layak
Masyarakat berharap pembangunan hunian sementara dan fasilitas pendidikan dapat segera terealisasi. Sekolah yang aman dan layak menjadi kebutuhan mendesak bagi masa depan anak-anak.
Pendidikan dipandang sebagai pondasi penting dalam proses pemulihan pascabencana.
Keberlangsungan pembelajaran menjadi simbol bahwa kehidupan harus terus berjalan meski dilanda musibah.
Keteladanan Guru di Masa Krisis
Dedikasi para guru yang tetap mengajar dalam kondisi darurat menjadi teladan nyata bagi masyarakat.
Pengabdian mereka menunjukkan bahwa pendidikan tidak boleh berhenti meskipun menghadapi keterbatasan.
Ketulusan tersebut menjadi kekuatan moral bagi para siswa dan warga sekitar.
Penutup
Belajar di bawah tenda pengungsian menjadi potret nyata ketangguhan dunia pendidikan di Kabupaten Bener Meriah. Di tengah kerusakan dan keterbatasan, semangat guru dan murid tetap menyala.
Kondisi ini menjadi pengingat bahwa pendidikan adalah hak yang harus dijaga dalam situasi apa pun. Dengan dukungan pemerintah dan kepedulian berbagai pihak, harapan akan sekolah yang aman dan layak tetap terbuka bagi anak-anak Bener Meriah.

Cek Juga Artikel Dari Platform marihidupsehat.web.id
